_cerpen ini pernah diterbitkan di buku "Rumah Pelangi",,,
selengkapnya silakan beli bukunya :-)
Apa kabar suamiku?
Ku harap kau dalam keadaan baik ketika membaca tulisanku ini.
Di sini, pertama aku ingin mengenang masa silam kita, ketika kita masih berstatus mahasiswa, ketika jiwa muda kita masih iseng dan labil. Betapa seringnya kita bertengkar, tentang apa saja, entah itu masalah kuliah, organisasi, atau hal-hal tak penting. Ada saja yang bisa kita perdebatkan untuk menciptakan suatu kegaduhan di tempat kita berada.
Ketika kau memarahiku, aku memukulmu, kau menjitakku, bercanda, berceloteh, saling ejek, huh…. Menggemaskan sekaligus menyebalkan, tapi aku suka jika mengenangnya, rasanya hal seperti itu menjadi sesuatu yang membuat aku semakin sayang padamu.
Lalu, kau ingat bagaimana wajah teman-teman kita, saat dua tahun setelah kita wisuda, kau ingat ketika mereka tercengang membaca undangan yang kita kirimkan.
“Apa Ren, yang benar saja?”
“Lho, jadi kau menikah dengan Rendra?!”
“Apa ini, tak salah?! Bukannya kalian tak pernah akur?”
“Jangan-jangan undangan ini salah cetak…”
“Ah, paling cuma kemiripan nama…”
Dan entah apa lagi komentar mereka, lebih-lebih ketika mereka melihat di pelaminan aku dan kamu yang menikah.
Tapi,
Di sini aku tak ingin banyak membahas bagaimana kita dulu, yang ingin ku ungkapkan adalah apa saja yang ada setelah sembilan tahun pernikahan kita.
Saat pertama tamparanmu melayang ke pipiku, bukan ciuman hangat yang biasa kau persembahkan untukku. Perih rasanya, bukan karena sakit tamparanmu, tapi kenapa tanganmu begitu ringan hingga menghadiahkan tamparan untukku?! Apakah kau khilaf? Atau memang aku terlampau salah? Jawabannya ada di atap rumah kita, kalau saja atap itu mau menceritakannya padaku.
>>> lanjutkan di buku Rumah Pelangi Tentang Cinta :Karuna Vidya Jakarta 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar