Menjadilah terang di hening ringkik pagi,
aku sebatas waktu yang membeku, dalam pilu dan deru, ku rinduimu terang..
Ku rinduimu,
sesekali mataku lantang menatapmu, tapi kemudian aku tertunduk, perih..
`kenapa dengan sinarmu kau menyakitiku?`
`sungguh dinda, tidaklah aku bermaksud, tapi beginilah aku, terangku sewaktu-waktu hanyalah p0ison yang bisa saja mematikanmu,`
aku tak bergeming, bukan. Ia bukan p0ison, tapi aku yang terlalu lemah.
_aku, kepingan puing mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar