_Cerpen ini juga pernah diterbitkan di buku "Rumah Pelangi"
Potongan Kata Maaf
bisa dibaca di buku Rumah pelangi
Untuk Nagiba,
Siang itu matahari telah menampakkan sinarnya yang terik, ia seolah ingin memanggang puing-puing sisa kebakaran tiga hari yang lalu. Bangunan kokoh berlantai dua yang kini hanya tinggal puing-puingnya saja, tampak kehitaman dan seolah ringkih untuk dipercayai lagi bahwa bangunan itu tiga hari lalu masih berwujud asrama putri para guru Sekolah Dasar.
Seorang lelaki jangkung tampak memandangi sisa bangunan itu, ia menatapnya lagi setelah setahun lebih ia tak pernah lagi menatap bangunan itu. Mungkin kalau saja tiga hari yang lalu tidak terjadi kebakaran di asrama itu pastinya lelaki itu tidak akan berdiri di tempat sekarang ia berdiri menatap tiap retakan bangunan itu.
Matanya lekat entah mengartikan apa, seperti rasa terdalam yang belum pernah ia ungkap sebelumnya, seperti ia ingin bercakap dengan asrama itu namun semua telah terlambat karena asrama itu hanya tinggal puing-puing sisa si jago merah.
Ia menunduk memandangi kakinya yang terbalut sandal selop di atas rerumputan lapangan, sejenak tampak ia melangkahkan kakinya perlahan ke arah bangunan yang masih dilingkari pita kuning sebagai garis pembatas dari polisi.
Lelaki itu melewatinya saja, berjalan perlahan dan berhenti tepat di depan tangga yang akan membawanya ke lantai atas dari bangunan berlantai dua itu. Ia berhenti sejenak tapi akhirnya kakinya melangkah juga, perlahan dengan menghindari debu dan kayu keropos yang dapat saja menjatuhinya. Hingga ia sampai di lantai dua, ia langsung berbelok ke kanan, kapling tujuh, itu yang ia cari, menatap pintu yang sudah terbakar dan dinding hitam oleh api. Aku menatapnya saja, membiarkan ia berjalan menuju kamarku, ah kamarku, masa dia tahu kalau itu adalah kamarku, mungkin dia asal masuk saja dan kebetulan itu kamarku. Lelaki itu menatap ke arah meja kecil yang berisi sisa-sisa kertas berserakan yang tersobek-sobek tampak menghitam dan menjadi abu, ia membersihkan mejaku dengan tangannya, biasanya ia tak mau tangannya itu kotor kena debu, mungkin ia sudah lupa akan hidup sterilenya. Usapan tangannya yang pertama di meja itu ia hanya memperoleh debu hitam yang kotor, tapi usapannya yang kedua ia memperoleh bingkai foto yang terbalik dan tergeletak bertumpuk debu di meja itu. Bingkai kaca itu sanggup melindungi foto yang terpampang di dalamnya, lelaki itu menatap lekat wajah dirinya dan aku yang tampak ceria dalam foto itu. Ia tertunduk, memikirkan sesuatu, biar kutebak ia pasti memikirkan bahwa aku masih menyimpan fotonya padahal ia sudah setahun lebih meninggalkan aku tanpa kabar apapun, aku yakin ia menyesal meninggalkanku tanpa sepatah kata apapun.
>>>> bersambung di Rumah Pelangi Tentang Cinta :Karuna Vidya Jakarta 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar